LORONG WAKTU

SEJARAH FKG UNAIR

January 24th, 2009

MEMBUAT GIGI ORANG INDONESIA SEHAT-SENTOSA:

PERJALANAN FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS AIRLANGGA

Oleh: Purnawan Basundoro

 

Pendahuluan

 

Keberadaan Fakultas Kedokteran Gigi yang tersebar di berbagai universitas di Indonesia merupakan bagian dari kultur perawatan gigi yang pada awalnya dikembangkan oleh masyarakat Eropa sebagai bagian dari citra sehat, bersih, dan modern yang mereka banggakan. Tradisi perawatan gigi sebenarnya telah dikembangkan oleh masyarakat Indonesia sejak ribuan tahun yang lampau. Kaum wanita (bahkan juga pria) di banyak daerah di Indonesia memiliki kebiasaan  mengunyah sirih yang merupakan campuran antara daun sirih, gambir, kapur, dan biji pinang yang dipercaya dapat menguatkan gigi. Untuk membersihkan gigi masyarakat Indonesia jaman dahulu menggunakan bahan-bahan yang mudah didapat dilingkungan sekitar, seperti potongan batu bata merah, daun ilalang, potongan kayu (syiwak), dan sebagainya. Tradisi untuk merapikan gigi pada jaman dulu juga berkembang di banyak tempat seperti di Jawa terdapat tradisi pangur dan di Madura berkembang tradisi mapar. Pengobatan tradisional untuk sakit gigi juga banyak berkembang di Indonesia.

 

 

Namun semua tradisi perawatan gigi yang dikembangkan oleh masyarakat Indonesia pada jaman dahulu kala tidak mencitrakan sebagai perawatan gigi yang bersih, sehat, dan modern sebagaimana nantinya dikembangkan oleh masyarakat Eropa. Tradisi mengunyah sirih walaupun membuat gigi menjadi kuat tetapi menyebabkan gigi menjadi hitam dan menimbulkan semburan ludah berwarna merah di banyak tempat. Padahal dalam citra masyarakat Eropa, bersih identik dengan warna putih. Demikian juga dengan tradisi merapikan gigi, walaupun menyebabkan gigi rapi tetapi seringkali menimbulkan gigi menjadi ngilu (tidak sehat) karena tidak menggunakan peralatan-peralatan modern. Pengembangan pendidikan kedokteran gigi di Indonesia yang dimulai pada masa kolonial disamping untuk melayani perawatan gigi masyarakat Eropa yang ada di Indonesia, juga dalam rangka menciptakan citra sehat, bersih, dan modern pada masyarakat Indonesia. Pencitraan ini dimulai di kota Surabaya pada tahun 1928 dengan berdirinya School tot Opleiding van Indische Tandartsen (STOVIT).

 

Berdirinya Fakultas Kedokteran Gigi

 

Sebelum berdiri lembaga kedokteran gigi pada masa kolonial, di kota Surabaya telah berdiri terlebih dahulu sekolah kedokteran yang bernama Nederlandsch-Indische Artsen School (NIAS) pada tahun 1913. Karena lembaga kedokteran gigi belum ada maka kebutuhan akan tenaga kesehatan gigi (dokter gigi) didatangkan langsung dari Eropa (Belanda). Namun jumlah dokter gigi dari Eropa yang bisa dan mau bekerja di Hindia Belanda pada waktu itu amat terbatas, itupun sebagian besar hanya untuk melayani orang-orang Eropa yang tinggal di sini. Jika orang-orang pribumi menderita penyakit gigi maka sebagian besar dibawa ke dukun atau tabib dengan pengobatan tradisional, dan sebagian lagi dibiarkan untuk sembuh dengan sendirinya. Masyarakat awam menganggap bahwa sakit gigi bukanlah sakit gawat yang bisa menimbulkan kematian. Mereka juga menganggap bahwa kebersihan gigi bukanlah hal penting yang harus dilakukan sepanjang gigi masih bisa untuk mengunyah makanan dengan baik.

 

Mengantisipasi hal tersebut pada bulan April 1928 Dr. Lonkhuizen, Kepala Departemen Kesehatan Masyarakat (Dienst den Volkgezonheid) pada masa itu mengusulkan kepada Direktur NIAS agar mendirikan sebuah lembaga pendidikan kedokteran gigi yang bisa mendidik calon-calon dokter gigi yang berafiliasi dengan NIAS. Diharapkan lulusan dari lembaga ini bisa memenuhi kekurangan tenaga dokter gigi di Hindia Belanda. Gagasan untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan kedokteran gigi akhirnya terlaksana. Pada bulan April 1928 pemerintah menunjuk Dr. Schoppe untuk mempersiapkan pendirian lembaga tersebut sekaligus sebagai direkturnya yang pertama. Lembaga pendidikan kedokteran gigi tersebut diberi nama STOVIT (School tot Opleiding van Indische Tandartsen) yang berlokasi satu kompleks dengan NIAS di Viaduct Straat No. 47 Surabaya. Pada bulan Juli 1928 sekolah dibuka dengan secara resmi menerima pendaftaran siswa. Jumlah siswa yang diterima untuk didik menjadi dokter gigi pada angkatan pertama sebanyak 21 orang. Syarat utama untuk bisa diterima di sekolah ini minimal harus lulusan dari MULO Bagian B (Pasti Alam). Bulan September 1928 proses pendidikan secara resmi dimulai. Kurikulum dirancang agar siswa dapat menyelesaikan pendidikannya selama lima tahun termasuk latihan klinik selama tiga tahun agar setelah lulus bisa langsung berprofesi sebagai dokter gigi.

 

Setelah tiga tahun menjabat sebagai direktur dan berhasil meletakan fondasi yang kokoh bagi pendidikan kedokteran gigi di Hindia Belanda, khususnya di kota Surabaya, pada tahun 1931 Dr. Schoppe secara resmi meletakan jabatannya. Kedudukannya digantikan oleh Dr. H.J.F. Van Zaben. Tahun 1933 TOVIT berhasil meluluskan dokter gigi yang pertama. Warga Eropa yang tinggal di kota Surabaya memiliki minat yang tinggi untuk memasuki sekolah gigi, tetapi lembaga tersebut memiliki keterbatasan daya tampung yang rata-rata tiap tahun hanya 20 siswa. Karena daya tampungnya yang terbatas maka Jepang mengambil alih pemerintahan Hindia Belanda STOVIT baru menghasilkan 80 dokter gigi. Proses pendidikan di STOVIT mengalami gangguan yang cukup serius dengan masuknya Bala Tentara Jepang ke Indonesia karena berdampak pada keberadaan staf pengajar yang berkebangsaan Belanda. Pengajar-pengajar berkebangsaan Belanda sebagian besar melarikan diri, sebagian lagi dimasukan ke kamp interniran. Bahasa Belanda sebagai pengantar di lembaga-lembaga pendidikan dilarang. STOVIT dibekukan lebih dari satu tahun.

 

Pada tahun 1943 Pemerintah Pendudukan Jepang membuka kembali beberapa lembaga pendidikan tinggi di Indonesia. Lembaga pendidikan yang dibuka antara lain Ika Daigaku (Perguruan Tinggi Kedokteran) yang merupakan gabungan dari bekas STOVIA yang berkedudukan di Batavia (Jakarta) dan NIAS yang berkedudukan di Surabaya. Ika Daigaku berkedudukan di Jakarta sedangkan cabangnya ada di Surabaya yaitu di bekas NIAS. Pada tanggal 5 Mei 1943 di Surabaya dibuka Ika Daigaku Sika Senmenbu atau Sekolah Dokter Gigi. Upacara pembukaannya dimanfaatkan oleh Pemerintah Pendudukan Jepang sebagai media untuk berpropaganda. Hatakeda yang mewakili pemerintah dengan nada mengejek Pemerintah Belanda mengemukakan bahwa Pemerintahan Belanda dahulu selalu menggembar-gemborkan  akan memperhatikan kesehatan penduduk negeri ini, tetapi nyatanya tidak ada hasilnya.  Bahkan bangsa pribumi hanya mendapat hinaan dan gangguan kesehatan serta selalu diliputi kesengsaraan. Lebih lanjut ia mengemukakan bahwa saat ini Dai Nippon akan berjuang untuk memperbaiki kesalahan Pemerintah Belanda yang telah almarhum agar dapat dicapai susunan baru yang kuat dan teguh. Salah satu jalan untuk memperbaiki keadaan itu adalah dengan memperbaiki masalah “ketabiban”.  Sedangkan Itagaki Kepala Ika Daigaku Jakarta  dalam sambutannya mengatakan bahwa pada masa Belanda memerintah kondisi kesehatan penduduk Indonesia sangat terbelakang. Indonesia yang berpenduduk kurang lebih lima puluh juta orang hanya memiliki kira-kira lima ratus orang dokter atau satu orang dokter untuk sepuluh ribu penduduk. Apalagi keberadaan dokter-dokter hanya ada di kota-kota besar saja. Dengan demikian maka penduduk di daerah-daerah terpencil sangat dirugikan dalam hal kesehatannya. Pemerintah Pendudukan Jepang berjanji bahwa Sekolah Dokter Gigi yang baru diresmikan tersebut akan dapat memenuhi kebutuhan penduduk akan tenaga dokter gigi dalam waktu yang singkat tetapi juga sempurna. Sebagai pimpinan dari Ika Daigaku Sika Senmenbu adalah Dr. Takeda, tetapi pada bulan Nopember 1943 diganti oleh Prof. Dr. Imagawa. Beberapa staf pengajar berkebangsaan Jepang antara lain Dr. Kosi, Dr. Mural, Dr. Kondo, Dr. Takeuti, Dr. Fusise, dan Dr. Itigawa. Disamping itu juga terdapat beberapa staf pengajar dari masyarakat pribumi antara lain Prof. Dr. Sjaaf, Dr. Zainal, Dr. M. Salih, Ir. Darmawan Mangoenkoesoemo, Ir. Soemono, Dr. S. Mertodidjojo, Dr. M. Soetojo, Dr. Azil Widjojokoesoemo, Dr. R.G. Indrajana, dan Dr. R Moestopo.

 

Era Kemerdekaan

 

Tanggal 14 Agustus 1945 Jepang menyerah kepada Sekutu yang disusul dengan diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Dengan proklamasi kemerdekaan maka secara politis Indonesia lepas dari kekuasaan Jepang dan secara bebas bisa mengatur dirinya sendiri. Ika Daigaku yang berkedudukan di Jakarta dan Ika Daigaku Sika Senmenbu yang berkedudukan di Surabaya kemudian dilikuidasi. Tindakan ini merupakan bagian dari proses Indonesianisasi yang berlangsung dalam sektor-sektor tertentu utamanya politik dan pendidikan. Sebagai ganti dari kedua lembaga pendidikan kedokteran tersebut maka pemerintah Republik Indonesia mendirikan Perguruan Tinggi Kedokteran Republik Indonesia yang berkedudukan di Jakarta. Sedangkan Perguruan Tinggi Kedokteran Gigi yang berkedudukan di Surabaya merupakan bagian dari Perguruan Tinggi Kedokteran Republik Indonesia. Sebagai pimpinan dari perguruan tinggi adalah Prof. Dr. Sjaaf.

 

Ketika proses pembenahan perguruan tinggi kedokteran tengaha berlangsung gelombang perang kemerdekaan muncul yang didahului dengan masuknya pasukan Sekutu ke Indonesia. Dengan dalih ingin mengamankan tawanan Jepang,  pada bulan September sampai Oktober 1945 pasukan Sekutu memasuki kota-kota besar di Indonesia. Di Jakarta pendaratan pasukan Sekutu disambut dengan kontak senjata oleh rakyat. Di mana-mana pasukan Sekutu menciptakan kegaduhan. Rakyat Indonesia yang mencurigai adanya maksud tersembunyi dari pasukan Sekutu dengan menyelundupkan tentara Belanda menjadi marah. Akibatnya kota Jakarta menjadi tidak aman. Pada bulan Januari 1946 Ibukota Republik Indonesia dipindahkan dari Jakarta ke Yogyakarta. Bersamaan dengan itu dipindahkan pula Perguruan Tinggi Kedokteran Republik Indonesia ke beberapa kota yaitu ke Yogyakarta, Solo, dan Klaten.

 

Di kota Surabaya keberadaan pasukan Sekutu (Inggris) memancing perang besar dengan rakyat kota ini. Akibatnya kondisi kota menjadi kacau balau yang menyebabkan situasi perkuliahan di Perguruan Tinggi Kedokteran Gigi Surabaya menjadi terganggu. Agar proses perkuliahan tetap berjalan maka seiring dengan pindahnya pemerintahan propinsi Jawa Timur ke kota Malang, Perguruan Tinggi Kedokteran Gigi juga dipindahkan ke kota Malang dengan status sebagai perguruan tinggi di pengungsian. Tahun 1947 terjadi Agresi Militer Pertama yang disusul dengan Agresi Militer Kedua pada tahun 1948. Pada Agresi Militer yang kedua, kota Malang digempur habis oleh pasukan tentara Belanda. Warga kota Malang terpaksa harus mengungsi keluar kota. Sebelum kota Malang ditinggalkan, sebagian besar bangunan penting di kota ini dibumihanguskan agar tidak digunakan oleh pasukan Belanda yang baru datang di kota ini.

 

Bersamaan dengan didudukinya kota Malang oleh pasukan tentara Belanda maka Perguruan Tinggi Kedokteran Gigi juga harus dipindah lagi ke kota Klaten dan Yogyakarta. Pada tahun 1946 di Yogyakarta didirikan Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada oleh Pemerintah Republik Indonesia. Pada tahun 1949 secara resmi Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada berubah menjadi Universitas Gadjah Mada yang menghimpun fakultas-fakultas yang tersebar di berbagai kota Republik, antara lain Yogyakarta, Solo, dan Klaten. Dengan demikian maka sejak saat itu Perguruan Tinggi Kedokteran Gigi berubah statusnya menjadi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada.

 

Sejak Agresi Militer Pertama pada tanggal 20 Juli 1947 kota Surabaya diduduki oleh Pasukan Tentara Belanda. Mereka kemudian mendirikan pemerintaha Jawa Timur yang disebut RECOMBA yang berkedudukan di Surabaya. Pada tanggal 27 Agustus 1947 Pemerintah Pendudukan Belanda di Jakarta mengumumkan kepada masyarakat bahwa mereka akan membuka kembali Institut Kedokteran Gigi di Surabaya yang bertempat di gedung NIAS. Karena tempat yang terbatas sekolah ini belum akan menerima murid baru tetapi hanya akan menerima bekas siswa STOVIT terutama yang sebelum Jaman Jepang minimal sudah duduk di kelas dua. Sedangkan siswa STOVIT yang dulu baru kelas satu hanya diperkenankan masuk apabila memiliki ijazah HBS B atau AMS B.

 

Pada tanggal 15 Januari 1948 secara resmi dibuka kembali Institut Kedokteran Gigi atau Tandheelkundige-Instituut yang menempati bekas gedung NIAS di Karangmenjangan yang pada jaman kolonial bernama Viaduct Straat No. 47.  Peresmian pembukaan sekolah tersebut mendapat perhatian yang cukup dari pemerintah pendudukan Belanda. Hadir dalam kesempatan itu diantaranya dari RECOMBA Jawa Timur. Sebagai direktur dari sekolah ini adalah Dr. J.M. Klinkhamer Sr. Pada saat sekolah ini dibuka tidak ada satupun masyarakat pribumi yang mau menjadi siswa. Rasa nasionalisme yang amat tinggi dari masyarakat kota Surabaya menyebabkan mereka lebih baik menyingkir keluar kota atau menjadi pejuang dari pada menjadi siswa sekolah yang dikelola oleh pemerintah pendudukan Belanda. Maka pada periode ini Tandheelkundige-Instituut lebih pantas disebut sebagai lembaga pendidikan milik Belanda yang akan menjajah kembali Indonesia.

 

Pada tanggal 1 Agustus 1948 Pemerintah Pendudukan Belanda membuka Faculteit der Geneeskunde (Fakultas Kedokteran) di Surabaya yang merupakan cabang dari Faculteit der Geneeskunde, Universiteit van Indonesia yang telah berdiri sejak Maret 1947 di Jakarta. Sejak saat itu di kota Surabaya terdapat dua lembaga pendidikan kedokteran yaitu Faculteit der Geneeskunde dan Tandheelkundige-Instituut yang merupakan cabang fakultas yang sama dari Universiteit van Indonesia Jakarta.

 

Sejarah perguruan-perguruan tinggi di Indonesia mengalami perubahan yang signifikan dengan berakhirnya pendudukan Belanda di Indonesia dengan disepakatinya Konferensi Meja Bundar (KMB) pada bulan Nopember 1949. Tanggal 19 Desember 1949 Universitas Gadjah Mada lahir. Pada tanggal 27 Desember 1949 negeri Belanda secara resmi menyerahkan kedaulatan atas Indonesia kepada Republik Indonesia Serikat (RIS). Dengan penyerahan kedaulatan itu maka Universiteit van Indonesia yang semula dibawah penguasaan pemerintah pendudukan Belanda kemudian menjadi universitas milik Republik Indonesia Serikat dengan fakultas-fakultasnya yang tersebar di negara-negara federal, antara lain di ibukota RIS Jakarta, di Negara Indonesia Timur/Makassar (Fakultas Ekonomi), dan di Negara Jawa Timur/Surabaya (Fakultas Kedokteran dan Institut Kedokteran Gigi).

 

Penyerahan kedaulatan dan terbentuknya kembali negara kesatuan Republik Indonesia telah mendorong terjadinya perubahan formasi dan konstelasi perguruan tinggi di Indonesia. Universitas Gadjah Mada yang merupakan universitas milik Republik Indonesia semakin memantapkan posisinya menjadi universitas nasional. Sementara itu Universiteit van Indonesia yang dilahirkan dan dikelola oleh Belanda berubah nama menjadi Universitet Indonesia. Perubahan nama itu merupakan bagian dari proses Indonesianisasi pendidikan tinggi di Indonesia. Periode awal kemerdekaan ditandai dengan bangkitnya rasa nasionalisme yang sangat tinggi yang diikuti dengan sentiman anti Belanda yang kuat. Timbulnya perasaan semacam itu diikuti dengan penjungkirbalikan simbol-simbol kolonialisme yang bisa membangkitkan romantisme masa kolonial yang menyengsarakan. Akibatnya simbol-simbol yang berbau kolonial dihancurkan dan diganti dengan simbol-simbol ke-Indonesiaan. Istilah-istilah Belanda diganti dengan istilah-istilah Indonesia, maka wajar jika nama Universiteit van Indonesia diganti menjadi Universitet Indonesia. Pengelolaan universitas tersebut juga berpindah tangan ke Pemerintah Republik Indonesia. Dengan perubahan nama tersebut Faculteit der Geneeskunde dan Tandheelkundige-Instituut juga berubah menjadi Fakultas Kedokteran dan Institut Kedokteran Gigi, Universitas Indonesia Cabang Surabaya. Pimpinan Institut Kedokteran Gigi masih dipegang orang Belanda yaitu Prof. M. Knaap. Ia menjabat sampai tahun 1953 dan digantikan oleh Prof. M. Soetojo. Istilah Institut Kedokteran Gigi sering disebut juga dengan istilah Lembaga Kedokteran Gigi.

 

Karena terbatasnya sarana dan prasarana maka sampai tahun 1951 jumlah mahasiswa yang diterima di Institut Kedokteran Gigi  Surabaya masih sangat terbatas, yaitu berkisar 20 orang. Seiring dengan berbagai pembenahan dan penambahan alat maka sejak tahun 1952 jumlah mahasiswa yang diterima berkisar antara tujuh puluh sampai seratus orang.

 

Sampai tahun 1950 Indonesia baru memiliki dua universitas negeri, yaitu Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta dan Universitas Indonesia di Jakarta. Jumlah itu tentunya tidak sebanding dengan jumlah penduduk Indonesia yang sudah amat banyak. Oleh karena itu pemerintah berinisiatif untuk mendirikan perguruan tinggi lagi terutama di Indonesia bagian timur. Akhirnya pemerintah memutuskan untuk mendirikan sebuah universitas baru yang diberi nama Universitas Airlangga yang berkedudukan di kota Surabaya. Pada tanggal 10 Nopember 1954 secara resmi Universitas Airlangga berdiri. Dengan berdirinya Universitas Airlangga maka Fakultas Kedokteran dan Institut atau Lembaga Kedokteran Gigi yang semula merupakan cabang dari Universitas Indonesia kemudian dipisahkan dari induknya dan digabung ke Universitas Airlangga.

 

Sejak digabung dengan Universitas Airlangga nama Lembaga Kedokteran Gigi berubah status menjadi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga dengan lama belajar lima tahun. Namun bagi mahasiswa lama yang masuk sebelum tahun 1954 (sebelum bergabung dengan Universitas Airlangga) statusnya masih sebagai mahasiswa Lembaga Kedokteran Gigi dengan lama belajar empat tahun. Pada tahun Pelajaran 1956/1957 masih terdapat tiga tingkat mahasiswa yang belajar di Lembaga Kedokteran Gigi, yaitu tingkat II, III, dan IV. Mereka adalah para mahasiswa lama yang tidak lulus-lulus, atau istilah pada saat itu adalah recidivist, dikarenakan berbagai hal. Tetapi pada saat yang bersamaan pada tahun pelajaran itu juga sudah terdapat mahasiswa tingkat I, II, dan III dengan status sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga.  Syarat-syarat untuk dapat diterima menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi adalah Berijazah SMA bagian B (Pasti-Alam). Baru pada tahun 1963 status Lembaga Kedokteran Gigi menghabiskan mahasiswanya, dan dengan demikian maka secara resmi sejak tanggal 5 Desember 1963 lembaga tersebut ditutup. Dengan ditutupnya Lembaga Kedokteran Gigi maka berdiri secara penuh Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga sejak tanggal 5 Desember 1963 dengan lama pendidikan lima tahun. Lulusan terakhir dari Lembaga Kedokteran Gigi adalah Rifat Simatupang, The Siong Hoon, Djoko Soedibyo, Tan Khe Hoen, dan Lee Fong Lien. Adapun Dekan Fakultas Kedokteran Gigi pada periode ini adalah Letkol. Soenario.

 

Sejak berstatus menjadi fakultas upaya untuk memajukan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga terus dilakukan. Upaya tersebut antara lain menjalin kerjasama dengan berbagai universitas di luar negeri, pembenahan kurikulum, serta penambahan sarana dan prasarana. Pada tahun 1957 salah seorang staf pengajar yaitu Ratiza Zainal dikirim ke Amerika Serikat untuk memperdalam pengetahuan tentang teknik pengobatan dan perawatan gigi. Ia dikirim bersama dengan empat dokter gigi lain dari berbagai kota di Indonesia untuk belajar di berbagai sekolah kedokteran gigi di Amerika serikat atas kerjasama antara kementrian Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan (PP dan K) dengan Administrasi Kerjasama Internasional Amerika Serikat di Indonesia (ICA). Pada tahun 1959 ketika Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga bekerjasama dengan University of California, Fakultas Kedokteran Gigi juga diberi kesempatan untuk ikut memanfaatkan kerjasama tersebut dengan mengirim duabelas staf pengajarnya untuk memperoleh pendidikan tambahan dan pendidikan bergelar dengan beasiswa dari USAID.

 

Dinamika Mahasiswa

 

Upaya untuk menata Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga tidak selalu berjalan mulus. Hal ini terjadi karena pada periode konsolidasi masih  banyak kekacauan yang kadang-kadang membuat beberapa pihak terutama mahasiswa merasa dirugikan. Contoh kondisi semacam ini terjadi pada bulan Januari 1959 yang menyulut protes mahasiswa dengan cara melakukan pemogokan kuliah. Aksi pemogokan meletus akibat adanya keputusan pimpinan fakultas tentang ujian tanggal 17 Januari 1959 yang menurut mahasiswa cukup menyinggung dan merugikan mereka. Pada tanggal 19 Januari 1959 Senat Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga  mengeluarkan Press Release tentang “Aksi Tidak Masuk Sekolah”.  Hal ini menurut mahasiswa dilatarbelakangi beberapa hal antara lain, kacaunya rencana pelajaran (kurikulum) Fakultas Kedokteran Gigi serta banyaknya mahasiswa yang dirugikan akibat perubahan kurikulum. Untuk mendukung “Aksi Tidak Masuk Sekolah” Senat Mahasiswa menyerukan kepada mahasiswa yang duduk di tingkat VI F, V F, III L, dan IV L (mahasiswa-mahasiswa yang sedang praktek di klinik) terhitung sejak tanggal 19 Januari 1959 untuk tidak masuk kuliah atau mogok belajar selama tiga hari. Pada saat yang sama pihak Senat Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi akan melakukan perundingan dengan pimpinan fakultas. Namun jika sampai “Aksi Tidak Masuk Sekolah” selesai tetapi belum ada kesepakatan yang memuaskan mahasiswa, maka mulai tanggal 22 Januari 1959 semua mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi akan melakukan mogok kuliah secara massal yang diikuti oleh semua mahasiswa.  Pemogokan fase pertama diikuti tidak kurang dari duaratus mahasiswa sejak tanggal 19-21 Januari 1959. Sampai akhir pemogokan ternyata tidak ada jawaban yang memuaskan dari pimpinan fakultas, akhirnya ancaman Senat Mahasiswa untuk mengerahkan semua mahasiswa dilaksanakan dengan fase mogok kedua yang diikuti oleh seluruh mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi yang berjumlah sekitar empat ratus orang dari semua tingkatan.

 

Untuk mencari titik temu mengenai permasalahan yang diprotes oleh mahasiswa akhirnya pada tanggal 24 Januari 1959 diadakan pertemuan antara pihak mahasiswa dengan Pimpinan Fakultas Kedokteran Gigi Prof. Dr. Soetojo. Namun upaya untuk mencari titik temu antara mahasiswa dengan pimpinan fakultas sangat sulit dan berlarut-larut. Mahasiswa tetap melakukan mogok kuliah sampai akhirnya Presiden Universitas Airlangga, Prof. Mr. A.G. Pringgodigdo turun tangan. Ia menghimbau kepada seluruh mahasiswa yang melakukan aksi mogok agar menghentikan aksinya sambil menunggu keputusan Senat Universitas Airlangga yang akan metumuskan ulang berbagai peraturan di Fakultas Kedokteran Gigi. Himbauan tersebut duturuti oleh peserta aksi dan sejak tanggal 2 Februari 1959 mahasiswa sudah mulai aktif kuliah kembali. Pada tanggal 25 Maret 1959 peraturan yang dirumuskan oleh Senat Universitas Airlangga bisa diselasaikan dan diumumkan kepada seluruh mahasiswa oleh Presiden Universitas Airlangga.

 

Memasuki tahun 1960 suhu politik di Indonesia memanas. Partai Komunis Indonesia (PKI) yang meraih suara sangat signifikan pada Pemilihan Umum tahun 1955 mulai menancapkan pengaruhnya di berbagai sektor. Di kota Surabaya PKI yang meraih suara terbanyak pada Pemilu 1955 melakukan konsolidasi yang intensif sampai ke kampung-kampung. Salah satu program kerja PKI kota Surabaya adalah menjadikan kota Surabaya sebagai kota PKI dengan walikota dari kader partai tersebut. Pada pemilihan umum untuk memilih anggota DPRD Kota Besar Surabaya yang dilaksanakan pada tahun 1958 PKI memperoleh suara mayoritas dan berhasil menguasai DPRD Kota Besar Surabaya. Langkah berikutnya adalah mencalonkan kadernya yaitu Dr. Satriyo sebagai walikota, usaha ini pun berhasil. Dr. Satriyo dikukuhkan sebagai walikota Surabaya pada tahun 1959 dengan melalui pemilihan pada Sidang Pleno DPRD. Dr. Satriyo merupakan salah seorang alumni Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Ia menjabat Walikota Surabaya sampai tahun 1964 dan digantikan oleh kader PKI lainnya Murachman, S.H. yang merupakan alumni Fakultas Hukum Universitas Airlangga.

 

Keberhasilan PKI menguasai kota Surabaya juga berimbas pada Universitas Airlangga. Beberapa fakultas berhasil dikuasai oleh orang-orang yang secara aktif dan terang-terangan mendukung PKI. Akibatnya Universitas Airlangga dicap sebagai “universitas merah” yang dikuasai oleh PKI. Hal ini juga terjadi di Fakultas Kedokteran Gigi. Situasi semacam ini tentu saja memunculkan situasi dan kondisi belajar-mengajar yang tidak kondusif karena dilanda sikap saling curiga akibat perbedaan ideologi dan perbedaan afiliasi partai politik di kalangan dosen dan mahasiswa. Di pihak mahasiswa mereka terbelah ke dalam organisasi kemahasiswaan yang sangat ideologis seperti CGMI (komunis), GMNI (Nasionalis), dan HMI (Islam). Di antara organisasi kemahasiswaan tersebut sering terjadi perbedaan yang amat tajam dalam mensikapi persoalan politik dan akademik. Suasana yang muncul di sekitar kampus adalah suasana saling curiga yang  menimbulkan suasana “panas”. Kondisi politik di luar kampus sangat berpengaruh di dalam kampus.

 

Situasi berbalik arah ketika pada tanggal 1 Oktober 1965 PKI gagal mengambil alih kekuasaan di Jakarta. Kegagalan PKI itu dimanfaatkan oleh lawan-lawan politiknya untuk membrangus mereka sampai ke akar-akarnya. Dengan dukungan tentara para mahasiswa mengorganisir diri dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) yang dengan aktif melakukan aksi-aksi demonstrasi menyerukan agar PKI dibubarkan. KAMI Universitas Airlangga dipimpin oleh Sam Suharto, Ketua Dewan Mahasiswa pada waktu itu. Kegagalan PKI mengambilalih kekuasaan di Indonesia disikapi dengan ragu-ragu dari pimpinan Universitas Airlangga. Padahal mahasiswa yang tergabung dalam KAMI sudah berkali-kali mengusulkan kepada pimpinan Universitas Airlangga agar siapapun yang berafiliasi dengan PKI harus dikeluarkan atau dipecat dari Universitas Airlangga. Sikap ragu-ragu dari pimpinan universitas memancing kemarahan mahasiswa. Mereka menganggap bahwa Universitas Airlangga telah menjadi sarang oknum-oknum PKI (Gestapu). Akhirnya pada tanggal 16 Mei 1966 KAMI Universitas Airlangga mengambil jalan tegas dengan cara mengambil-alih Universitas Airlangga. Proses pengambilalihan tersebut dipimpin oleh Ketua KAMI Sam Suharto bertempat di Sekretariat Universitas Airlangga di Jalan Dr. Soetomo. Penyerahan atas pengambilalihan tersebut ditandatangani oleh Sekretaris Biro Rektor Universitas Airlangga Soeprapto Redjopradoto. Bagian-bagian yang diambilalih meliputi Fakultas Kedokteran, Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi, Fakultas Kedokteran Gigi, dan Perpustakaan. Selanjutnya tanggungjawab Universitas Airlangga diserahkan kepada Pepelrada Jawa Timur yang kemudian memutuskan untuk sementara menutup semua aktifitas di Universitas Airlangga sampai ada ketentuan lebih lanjut.

 

Universitas Airlangga dibuka kembali pada tanggal 16 Juli 1966. Rektor lama yaitu Chasan Duryat dilengserkan dan diganti oleh Brigjend. Dr. Eri Sudewo yang ditunjuk langsung oleh Mayjend. Suharto untuk menjabat sebagai Rektor Universitas Airlangga. Setelah secara resmi dibuka kembali maka semua aktifitas di Universitas Airlangga dimulai kembali termasuk di Fakultas Kedokteran Gigi.

 

Pengabdian Masyarakat

 

Upaya untuk membangun Fakultas Kedokteran Gigi pasca gejolak politik tahun 1965 terus dilakukan oleh civitas academika. Pada tahun 1969 dilakukan perubahan aturan pendidikan. Lama studi yang semula lima tahun diubah menjadi enam tahun dengan perkuliahan menggunakan sistem paket, artinya mata kuliah yang diambil oleh mahasiswa sudah ditentukan untuk tiap semester. Hal ini dilakukan untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan sistem pendidikan. Dengan sistem baru tersebut maka kesempatan mahasiswa untuk memperdalam ilmu kedokteran gigi menjadi semakin luas dengan waktu yang relatif lebih longgar. Mahasiswa dalam waktu yang cukup lama bisa berinteraksi dengan masyarakat untuk melakukan kegiatan yang berkaitan dengan perawatan dan pengobatan gigi. Selain untuk memperdalam ilmu tentang kesehatan gigi masyarakat sekaligus juga untuk mempraktekan ilmunya yang didapat di tempat perkuliahan. Pada tahun 1970-an di Fakultas Kedokteran Gigi terdapat kegiatan yang populer dengan nama “FKG Unair orientasi kemasyarakatan”, yaitu semacam praktek lapangan di masyarakat dalam waktu yang cukup lama. Sebagai conoth misalnya pada tahun 1977 mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi melakukan kegiatan pelayanan kesehatan gigi di pulau Lombok., yaitu di Kecamatan Tanjung di Lombok Barat, Kecamatan Jonggat di Lombok Tengah, dan Kecamatan Keruak di Lombok Timur. Pada tahun 1979 rombongan mahasiswa diberangkatkan lagi ke Lombok yang terdiri dari mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi dana mahasiswa Fakultas Kedokteran yang berjumlah 96 orang dipimpin oleh Dr. Hertoto Gunardi. Mereka melakukan tugas lapangan untuk mengadakan penyuluhan dan pelayanan kesehatan terhadap penduduk korban gempa bumi di Kecamatan Tanjung dan Kecamatan Gangga di Lombok Barat.  Pada saat yang sama sebagian rombongan mahasiswa juga melakukan bakti sosial di Pulau Bali.

 

Sistem Pendidikan

 

Tahun 1987 sistem pendidikan di Fakultas Kedokteran Gigi mengalami perubahan kembali. Kurikulum yang sebelumnya dirancang untuk enam tahun dimampatkan menjadi lima tahun yang terbagi dalam sepuluh semester dengan sistem belajar dengan Sistem Kredit Semester (SKS). Sistem SKS sangat berbeda dengan sistem sebelumnya yang dikenal dengan sistem Belajar Berdasarkan Subyek (BBS). Dengan model SKS maka cara belajar mahasiswa bisa dipacu. Mahasiswa yang memiliki kecakapan tinggi bisa menempuh pendidikan dalam waktu yang relatif lebih singkat. Untuk lebih meningkatkan kemampuan mahasiswa Sistem Kredit Semester (SKS) kemudian dipadukan dengan Comprehensive Evaluation System (CES), Praktikum Klinik, serta Pengalaman Lapangan. CES adalah sistem pengajaran yang dibarengi dengan evaluasi belajar terus-menerus selama satu semester berjalan melalui bobot penilaian pada proses dan hasil belajar, antara lain tugas mandiri, kuis, UTS, dan UAS. Sedangkan Praktikum Klinik dan Pengalaman Lapangan adalah suatu proses belajar memahami masalah kesehatan gigi, baik di kampus (terkondisi) dan di luar kampus (mandiri) dengan harapan mahasiswa lebih mendalami persiapan dalam pelayanan kesehatan. Dengan perpaduan proses belajar yang demikian maka diharapkan para alumni dari Fakultas Kedokteran Gigi akan menjadi seorang dokter gigi yang cakap dan tanggap dengan problem kesehatan gigi yang dihadapi oleh masyarakat.

 

Dalam perkembangannya Fakultas Kedokteran Gigi mengalami kemajuan yang amat cepat, baik dalam sistem pengajaran, jumlah mahasiswa, jumlah staf pengajar, serta sarana dan prasarana. Dalam sistem pendidikan saat ini Fakultas Kedokteran Gigi selain memiliki Program Pendidikan Strata Satu (S-1) untuk mendidik calon-calon dokter gigi, juga memiliki Program pendidikan Diploma Tiga (D III) untuk mendidik calon Ahli Madya Teknik Kesehatan Gigi, dan Program pendidikan Spesialis I (Sp I) Dokter Gigi untuk mendidik calon Dokter Gigi Spesialis. Program Studi Teknik Kesehatan Gigi yang berdiri tahun 1984 pada awalnya merupakan bagian dari Fakultas Non Gelar Kesehatan (FNGK) bersama dengan Program Studi Radiologi. Berdasarkan SK Mendikbud No. 0312/0/1991 tanggal 6 Juni 1993 Program Studi Teknik Kesehatan Gigi diambil alih oleh Fakultas Kedokteran Gigi menjadi Program Diploma III (D-III) Teknik Kesehatan Gigi sampai saat ini. Sedangkan Program Pendidikan Spesialis I yang berdiri tahun 1986 pada awalnya dikelola oleh Fakultas Pascasarjana Universitas Airlangga, yang terdiri dari dua Program Studi, yaitu Ortodensia dan Ilmu Bedah Mulut. Setahun kemudian yaitu tahun 1987 bertambah dua program studi yaitu Periodonsia dan Pedodonsia. Mulai tahun ajaran 1993/1994, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 30 Tahun 1990, pengelolaan Program Pendidikan Spesialis I dialihkan ke Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga. Adapun program studinyapun bertambah tiga buah, sehingga keseluruhan memiliki tujuh program studi, yaitu Ortodensia, Bedah Mulut, Periodonsia, Pedodonsia, Prostodonsia, Konservasi Gigi, dan Penyakit Mulut.

 

Sarana dan Prasarana

 

Untuk mendukung proses belajar mengajar mutlak diperlukan berbagai sarana penunjang. Sarana yang dimiliki oleh Fakultas Kedokteran Gigi dari waktu ke waktu mengalami perbaikan dan pengembangan. Pada awalnya peralatan praktikum untuk mahasiswa sebagian besar adalah peninggalan periode awal yang kondisinya sudah tidak memadai lagi. Upaya untuk memodernisasi berbagai peralatan terus dilakukan dan saat in i hampir semua peralatan praktik untuk mahasiswa sudah merupakan peralatan yang mutakhir. Beberapa sarana penting yang dimiliki antara lain, Ruang Praktek Pra-klinik. Fasilitas ini disediakan bagi mahasiswa sebelum memasuki masa klinik (RSGM). Di ruang ini dilengkapi peralatan laboratorium teknik gigi serta model-model gigi dan mulut yang menggambarkan keadaan pasien. Laboratorium Biologi Oral. Laboratorium ini dilengkapi dengan mikroskop, alat pertumbuhan bakteri / kuman / instrumen pemeriksaan mikrobiologi dan histologi. Dan sarana yang paling penting adalah Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM). Rumah sakit Gigi dan Mulut merupakan fasilitas yang tergolong baru. Rumah Sakit ini diresmikan oleh Mendiknas Prof. Dr. Malik Fajar pada tanggal 6 Agustus 2003 dan menjadi satu-satunya Rumah Sakit Gigi dan Mulut di Indonesia bagian timur. Rumah sakit ini memiliki peralatan yang modern untuk pelayanan kesehatan gigi dan mulut serta untuk praktek mahasiswa.

 

Kerjasama Internasional

 

Sejak tahun 1950-an Fakultas Kedokteran Gigi menjalin kerjasama internasional dengan berbagai universitas dan lembaga di berbagai negara. Pada tahun 1957 salah seorang staf pengajar yaitu Ratiza Zainal dikirim ke Amerika Serikat untuk memperdalam pengetahuan tentang teknik pengobatan dan perawatan gigi. Ia dikirim bersama dengan empat dokter gigi lain dari berbagai kota di Indonesia untuk belajar di berbagai sekolah kedokteran gigi di Amerika serikat atas kerjasama antara kementrian Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan (PP dan K) dengan Administrasi Kerjasama Internasional Amerika Serikat di Indonesia (ICA). Pada tahun 1959 ketika Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga bekerjasama dengan University of California, Fakultas Kedokteran Gigi juga diberi kesempatan untuk ikut memanfaatkan kerjasama tersebut dengan mengirim duabelas staf pengajarnya untuk memperoleh pendidikan tambahan dan pendidikan bergelar dengan beasiswa dari USAID. Pemantapan peningkatan mutu staf pengajar dilakukan dengan adanya kerjasama antar institusi pada tahun 1973 sampai tahun 1993 dengan University Hospital of Manchester, Turner Dental School di Inggris, University of Hiroshima, University of Kyushu, University of Kagoshima di Jepang. Selain itu juga dengan Erlangen and Hamburg Universitet, University of London, New South Wales University, University of Sydney, International Course in Cosmetic and Aesthetic Dentistry, South Jordan Salt Lake City Utah United States of America, Hereaus Kultzer Hanau Germany, University Kebangsaan Malaysia. Saat ini sedang menjalin kerjasama dengan University of Malaya dan University Sain of Malaysia.

 

 

 

 

 

No Comments »

No comments yet.

Leave a comment

:mrgreen: :neutral: :twisted: :shock: :smile: :???: :cool: :evil: :grin: :oops: :razz: :roll: :wink: :cry: :eek: :lol: :mad: :sad:

RSS feed for these comments. | TrackBack URI

Anthosia3c Sponsored by Web Hosting